ANALISIS PENGARUH PANDEMI COVID-19 TERHADAP DUNIA INDUSTRI DI
INDONESIA
Sejumlah kebijakan strategis telah dikeluarkan
pemerintah untuk percepatan penanganan wabah Covid-19 dan menjaga jalannya
dunia usaha di tanah air.“Pemerintah sangat serius dalam menangani Covid-19
ini, termasuk agar industri kita tidak terpuruk. Jadi, penciptaan iklim usaha
yang kondusif juga diprioritaskan. Namun, hal itu perlu dukungan semua
stakeholder,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta.
Pekan ini, Agus mengakui bahwa pihaknya aktif
menggelar rapat jarak jauh dengan sejumlah pelaku industri untuk mengetahui kendala-kendala
yang dihadapi saat ini. Kemarin, Rabu (3/4), Menperin melakukan konferensi
video dengan pelaku industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT). Hari
sebelumnya dengan para pelaku industri makanan dan minuman.
Hal ini lantaran pandemi Covid-19 membawa dampak
terhadap outlook perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Namun demikian,
pengalaman yang dialami oleh China bisa menjadi pembelajaran. Apalagi, saat
ini, geliat sektor manufaktur di Negeri Tirai Bambu mulai kembali bangkit.
“China mampu mengcreate kesempatan dalam krisis
seperti ini. Sebab, jika ekonomi China membaik, akan berpengaruh juga. Maka
itu, kita harus bisa menciptakan peluang baru dalam menghadapi kesulitan ini,”
paparAgus.
Sementara itu, Agus pun mengakui, tertekannya indeks
manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia pada
akhir kuartal I tahun 2020, turut dipengaruhi oleh banyaknya daerah yang
terjangkit Covid-19. Alhasil, penurunan utilitas industri manufaktur di
berbagai sektor tidak dapat dihindari.“Beberapa industri mengalami penurunan
kapasitas (produksi) hampir 50 persen, kecuali industriindustri alat-alat
kesehatan dan obat-obatan. Kami tetap mendorong industri bisa beroperasi
seperti biasanya, namun dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar
dari wabah Covid19,” tegas Agus.
Sebab, Agus megatakan, tidak hanya di Indonesia,
aktivitas manufaktur di Asia juga mengalami kontraksi pada bulan Maret 2020 ini
karena dampak penyebaran virus korona (Covid-19) terhadap rantai pasokan. Hal
ini berdasarkan data IHS Markit yang dirilis Rabu (1/4), hampir seluruh PMI
manufaktrur regional turun di bawah 50.
Indeks PMI Jepang anjlok ke level 44,8, sedangkan PMI
Korea Selatan turun ke 44,2, level terburuk sejak krisis keuangan global lebih
dari satu dekade lalu. Di Asia Tenggara, angka PMI Filipina turun menjadi 39,7,
terendah sepanjang sejarah, sedangkan Vietnam merosot ke 41,9. Sementara itu,
PMI Indonesia berada di posisi 45,3 pada Maret 2020.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan
Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengemukakan, beberapa anggota API
di Bandung mengembangkan pembuatan alat pelindung diri (APD).
Berikutnya, Presiden Direktur PT Sri Rejeki Isman Tbk.
(Sritex) Iwan Setiawan Lukminto menyampaikan, pihaknya juga sedang
mengoptimalkan produksi APD untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin
meningkat.
“Untuk bahan baku tidak masalah, karena kami bikin
sendiri. Kami juga akan memproduksi yang medical grade, dan kami sudah
distribusikan 35 juta masker bulan ini,” ungkap Iwan.
Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia
Sutanto menuturkan, pihaknya siap membantu pemerintah dalam upaya menangani
pandemi Covid19. “Kami menerapkan protokol kesehatan dalam proses produksi di
pabrik. Selain itu, overtime dihindari agar stamina bisa terjaga, dan jam kerja
dibatasi menjadi delapan jam,” papar Anne.
Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo mengatakan,
pihaknya punya pabrik di Cikarang yang sudah mengembangkan bahan baku obat
untuk penanganan Covid-19.
Sumber

0 komentar:
Posting Komentar